Minggu, 20 Mei 2012

Tersesat di Timur


Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo edisi 10 Agustus 2009

PERGI ke Barat tapi tersesat di Timur. Itulah jalan hidup yang dilakoni Leonard Stefanus Angliadi, 58 tahun.
Alkisah, pada 1992, saat melanjutkan program spesialisasi, Angliadi-panggilan akrabnya-terbang ke Barat untuk mengambil spesialisasi fisik dan rehabilitasi di Universitas Novi Sad, Yugoslavia. Namun, tiga tahun setelah itu, ternyata dia lebih banyak menggumuli ilmu medis dari Cina. Apalagi, di Tanah Air, dia kemudian mengikuti pendidikan dan pelatihan metode pengobatan tradisional yang digelar Departemen Kesehatan.
Langkahnya kian serius dan mantap. Pada 1995, dia mulai merintis unit teknis Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional di rumah sakit terbesar di Sulawesi Utara, Rumah Sakit Umum Pusat Prof Dr R.D. Kandou di Manado. Padahal saat itu dia telah menjabat Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik di rumah sakit yang sama-posisi yang masih dipegangnya sampai kini.
Bersama dua koleganya, dr Leonard Ratulangi dan dr Ani Suparmiani, dia terus memperkenalkan dan memperjuangkan hal yang sama. Dan hasilnya terbukti. Setahun berikutnya, Sekretaris Jenderal Departemen Kesehatan saat itu, Hidayat Hardjoprawito, meresmikan lembaga itu menjadi bagian dari pelayanan rumah sakit tersebut. Dan sejak itu, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, tahun 1980 ini lebih dikenal sebagai dokter yang melayani pengobatan tradisional. Termasuk berbagai cara aplikasi teknik tradisional dan khasiat obat-obatan herbal.
Unik memang, tapi itulah Angliadi. Waktunya sehari-hari lebih banyak dihabiskan dengan memberikan layanan akupresur di poliklinik pengobatan tradisional di rumah sakit itu-meski secara finansial, katanya, pengobatan tradisional tidak mendatangkan keuntungan.
Akupunktur bukan ilmu yang mudah dipelajari, apalagi dengan fasilitas yang minim seperti dialami kolega juniornya saat ini. Satu contohnya, keinginannya agar para dokter yang berminat bisa mengikuti pelatihan akupunktur langsung dari ahlinya di Singapura atau Shanghai tidak bisa dilaksanakan. Alasannya, biaya pelatihannya sangat tinggi. "Sedangkan bantuan dari pemerintah juga sangat sulit didapat karena mekanisme persyaratan, birokrasi, dan prosedur yang harus ditempuh tidak jelas," ujarnya.
Namun kesulitan itu tak menghambat kiprahnya. "Yang penting bisa membantu masyarakat yang ekonominya lemah," katanya. Kini di kliniknya setiap hari dr Angliadi menerima pasien hingga mencapai seratus orang lebih. Dia dibantu dua orang tenaga akupresur pijat tradisional.
Tak aneh, akibat ketekunan dan kerja kerasnya itu, dia mendapat julukan "terkun" atau dokter dukun. Dan dia tidak merasa risi. "Pada dasarnya semua dokter itu adalah dukun. Zaman dulu yang ada hanya dukun," ujarnya kalem. Bagi Angliadi, yang terpenting, ia bisa "memperpanjang" hidup pasien-pasien yang datang ke kliniknya.
Hingga saat ini, Angliadi terus mengembang-kan konsep integrated hospital di RSUP Prof Dr R.D. Kandou. Konsep ini menggabungkan pengobatan modern, tradisional, dan holistik, yakni peran agama dalam penyembuhan. Di samping itu, dia rajin melakukan berbagai penelitian dan kajian uji klinis obat-obatan tradisional bersama peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi.
Satu cita-citanya, kelak Universitas Sam Ratulangi membuka program studi traditional medicine di fakultas kedokterannya. Caranya bisa dilakukan lewat kerja sama dengan perguruan tinggi di luar negeri yang membuka program semacam itu.
"Agar bisa menghasilkan dokter yang betul-betul profesional dan mempunyai kemampuan akademik untuk mengembangkan dan merespons kebutuhan pengobatan tradisional serta semua dampak yang ada di masyarakat," ujarnya. Ya, dokter yang telah melawat ke Barat itu telah kembali dengan oleh-oleh istimewa: kedokteran dari Timur.

Harapan di Jalan Sunyi


Tulisan ini dimuat di Majalah Tempo edisi 10 Agustus 2009



AKHIRNYA angka itu mencapai seribu. Leonard Stefanus Angliadi, SpRM, Kepala Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional Rumah Sakit Umum Pusat Prof Dr R.D. Kandou, pun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Inilah buah manis dari usaha yang telah dirintisnya selama lebih dari 13 tahun itu.
Statistik kunjungan pasien yang terjadi tahun lalu itu juga berarti sebuah jawaban dari keya-kinannya saat membuka layanan pengobatan tradisional ini. Saat itu, Angliadi, panggilan akrabnya, percaya bahwa klinik yang mengintegrasikan metode pengobatan konvensional dan pengobatan tradisional akan mendapat respons sangat besar dari masyarakat di sana.
Dari tahun ke tahun, prediksi itu sedikit demi sedikit terbukti. Meski lamban, pasien yang datang berobat terus meningkat. Walhasil, dalam tujuh bulan perjalanan pada tahun ini, rumah sakit tersebut melayani seratus orang lebih setiap bulan.
Poliklinik pengobatan tradisional tersebut menyediakan pelayanan pengobatan dengan metode akupresur-antara lain untuk penyakit seperti pasca-stroke, nyeri tulang belakang, dan diabetes-pijat tanpa alat, jasa konsultasi obat-obatan tradisional, dan akupunktur. Mereka datang ke sana biasanya setelah mendapat rujukan dari poli lain. Tapi ada pula yang langsung datang tanpa rujukan.
Dalam hal pengobatan tradisional di negeri ini, Poliklinik Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional RSUP Prof Dr R.D. Kandou terbilang pionir. Sejak 8 April 1996, rumah sakit ini sudah menjadi wadah pelayanan pengobatan tradisional di Sulawesi Utara-bersama Provinsi Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jakarta.
Pembukaan poliklinik ini merupakan jawaban rumah sakit terhadap keinginan masyarakat yang melirik pengobatan tradisional di tengah kemajuan pengobatan. "Kami mencoba memperkenalkan metode pengobatan tradisional yang sudah dikenal di masyarakat dengan menggabungkannya bersama pengobatan konvensional," ujar Angliadi.
Toh, tak semuanya berjalan seindah harapan. Banyak pasien yang mencoba berobat ke sana kecewa karena tak ada ahli yang menanganinya. Ketika mereka hendak menjalani terapi akupunktur, misalnya, tenaga akupunkturis malah tidak ada. Poli itu memang kesulitan mendapatkan ahli yang siap seratus persen memberikan pelayanan. "Di sini hanya ada satu perawat dan dua orang tenaga akupresur," katanya.
Namun Angliadi tak bisa berbuat banyak. Masalahnya, tenaga dokter yang dimintai bantuan pada umumnya masih terikat dengan tempat kerjanya. Praktis mereka sibuk dengan kegiatan sendiri. Pada 2002, poli ini pernah dibantu seorang dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan. Sayang, ia cuma sebentar.
Penyebab lain, kata Angliadi, minat dokter untuk berkecimpung di dunia pengobatan tradisional juga rendah. Mereka yang berpendidikan modern lebih senang mempertahankan cara konvensional. Pelayanan ini tak ubahnya sebuah jalan yang sunyi.
Kendala lain adalah kurangnya perhatian dari pemerintah. Angliadi menyebut contoh proposal pengembangan poliklinik pengobatan tradisional di RSUP Manado yang telah disodorkan sejak 1997, tapi hingga kini belum terealisasi karena keterbatasan anggaran.
"Saya hanya ingin menyarankan Departemen Kesehatan menyediakan dana khusus setiap tahun untuk melaksanakan kegiatan pendidikan dan pelatihan di bidang pengobatan tradisional. Untuk RSUP Manado juga begitu, harus ada dana untuk itu," ujarnya berharap.
Poli itu juga belum bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Masalahnya, menurut Angliadi, pelayanan konsultasi obat tradisional dan penjualan obat tradisional belum bisa menambah pendapatan untuk menopang jasa pelayanan. "Masih gratis dan promotif," katanya.
Meski demikian, dengan keterbatasan yang ada, upaya promosi obat tradisional ini berhasil mencuri perhatian dokter dan masyarakat. Mereka menjadikan obat tradisional sebagai salah satu alternatif pengobatan, antara lain untuk kanker payudara, kanker kandungan, dan kanker paru-paru.
Itu sebabnya Angliadi tetap optimistis pengobatan jenis ini memiliki prospek yang cerah. Berdasarkan pengalamannya, tak pernah ada efek samping atau komplain, apalagi tuntutan dari pasien terkait dengan penggabungan pengobatannya. Bukti lainnya, jumlah pasien terus meningkat.
Itu berarti cita-cita mengintegrasikan pengobatan tradisional dan konvensional bukan mimpi. "Belum sepenuhnya terjadi. Masih perlu dukungan dari berbagai pihak," ujar dr Angliadi, yang tak lelah menyalakan api harapan. 

Minggu, 13 Mei 2012

Sekuntum Rindu untuk Alana




Anakku,
Saat kidung mengalun sendu
Parasmu menghiasi cakrawala
Rembulan bersilih berpandang muka
Malam berjejerjejer sepi,
Mengoyakngoyak rindu
Sedang apa kau di sana?

Di malam ini, Gerimis merebas-rebas menjadi deras
Perempuan tua menggendong anak seusiamu
Berteduh di selasar mesjid dengan mangkuk berisi rupiah lusuh
Kurus dan tak terurus, anak itu merengek
Entah kedinginan atau kelaparan

Di Jakarta, anak-anak kehilangan ayah
Mereka kelaparan dan menjadi papa
Mereka menyerah pada hidup, dan nasib

Malam lalu membisikan namamu,
Mengoceh pandangku
Ia menyebut putriku yang jauh nun di seberang
Sedang apa kau di sana, Alana?

Di langit, wajahmu menari-nari diantara bintang gemintang
Sambil berlari-lari kau kejar bola kuning pilihan ibumu 
Jangan berteriak anakku, cukup gapai saja bola itu
Dengan sayapmu,...dengan sayapmu
Kau akan tiba pada pucuk daun itu
Raihlah balonbalon itu
Dengan senyummu

Hati-hati dengan gulugula yang merusak gigimu
Berlarilah anakku, jangan takut terjatuh

Hey, di mana Momo?
Di mana Banana?
Di mana Twety?
Di mana Billy?
Di mana boneka-bonekamu yang lucu itu?
Ayo, peluklah segera mereka

Ah,..aku dikoyak-koyak rindu
Pada tawamu
Pada tangismu
Pada gigi gerigi mungilmu
Pada lesung pipitmu
Pada dengkuranmu yang kata ibumu mirip denganku
Pada hari minggu yang kita habiskan di pantai itu

Kepada Alana,
Aku kirimkan sekuntum rindu ini untukmu

Jakarta, 13 Mei 2012

Jumat, 13 April 2012

Hikayat untuk Alana

                (Sebuah Cerpen)

Jika seandainya kau bisa bicara, aku akan meminta pendapatmu. Dan jika jawabanmu: tidak, maka aku akan membatalkan kepergian itu. Aku ingin melibatkanmu dalam setiap keputusan. Aku akan menolak tawaran dari tanah seberang. Karena aku baru saja menjadi ayah bagimu. Belum lama. Baru setahun 43 hari. Seusia itu kamu menghirup udara, menginjakan kaki di bumi ini, dan aku harus meninggalkan kamu. Jika kau bisa bicara, aku tak bisa membayangkan kata-kata apa yang akan keluar dari mulutmu ketika tahu bahwa aku meninggalkanmu. Karena aku yakin, disaat kau menangis, itulah bentuk kemarahanmu, perlawananmu, penolakanmu, padaku. Pun disaat kau rewel, aku tahu bahwa kamu merengek mencari tahu dimana keberadaanku. Dan ternyata, aku sedang tak berada disampingmu: memelukmu, menjagamu, menciummu, meninabobokanmu, menuntunmu berjalan, mengusap-ngusap kepalamu, mengajakmu menikmati senja di sore itu. Aku di negeri jauh. Di tanah yang bagi sebagian orang adalah harapan. Namun bagiku, disini, di tanah ini, tanah para penjajah.
“Papa papa papa pa...aaaaaaaa!”
Kau meratap menyebut namaku. Tapi, entah, pada siapa. Barangkali, pada ibumu.

**
12 Februari

Pagi setelah musim penghujan itu berlalu, kamu berteriak. Bukan karena ada sesuatu yang membuatmu kesakitan. Atau karena celanamu basah akibat kencing disembarang tempat dan membuat lantai menjadi licin dan lengket untuk kau jejaki. Karena seperti biasa, kau selalu akan menangis jika ada sesuatu yang menurutmu aneh. Basah dan busuk, dua hal yang tidak kau sukai. Atau ketika melihat benda hitam sekecil kotoran cicak pun, kau akan berteriak dan menangis sambil menunjuk ke bawah. Maka itu saatnya kau meminta dipeluk dan dijauhkan dari barang aneh itu. Seusia itu, kau menjadi seperti orang yang takut berbuat dosa, seperti takut terhadap hal-hal yang bisa melumuri tubuhmu dengan kotoran yang berdosa; meruntuhkan kesucian tubuhmu. Itulah kau.
”Papapapapa.....aaa!!!”
Kau memanggilku. Setengah berteriak. Padahal, aku sedang memelukmu. Terkadang, panggilan yang kau sematkan padaku, itu kau sebutkan pula kepada siapa saja, entah perempuan atau laki-laki, anak-anak atau orang dewasa. Sebuah komunikasi yang verbal. Ada yang mensyukuri bahwa kau sudah bisa menyebut dan memanggil ’papa’ diusia sekencur itu. Bahkan, ketika mendengarnya, ibumu dengan senyumannya memintamu untuk menyebut namanya juga. Ia merasa tersaingi.
”Mama!” pinta ibumu.
Namun seperti biasa, kau cuek. Dan hanya menebarkan senyuman dengan lesung pipit yang bikin semua orang ingin menjamah pipimu. Ibumu berkali-kali meminta supaya kamu menyebut namanya. Kali ini, kau menangis.
Pagi itu, kau masih dalam pelukanku. Erat. Kelebihanmu saat itu adalah bisa berdiri lama-lama tanpa tuntunan dari orang lain. Kadang mencari tembok sebagai tempat bersandar. Jika melangkah sejengkal saja, kau akan jatuh. Dan tentu menangis. Maka dengan sebuah isyarat, kau memintaku untuk bisa memandumu berjalan. Bagi yang lain, itu adalah permainan. Namun bagiku, kau sedang belajar. Belajar tentang hidup, tentang kemandirian. Tentang cara berjalan. Tentang cara melatih otot-otot kakimu agar kuat menapaki bumi: berdiri di atas kaki sendiri.
”Alana Sastra, sini...ayo!!” ibumu memanggilmu. Ia mencoba mengecohmu agar kau bisa melangkah setapak demi setapak.
”Papapapapa....!!” kau membalasnya.
Pukul 11.00, aku akan meninggalkanmu. Sebelum aku terbang, aku menghabiskan waktu denganmu. Aku teringat kata seorang kawan bahwa untuk bisa lebih mendekatkan diri dengan orang tersayang, maka yang dibutuhkan bukanlah berapa lama waktunya untuk berkumpul bersama, melainkan nilainya. Segera aku merekatkan diri padamu. Bermain, berjalan, bersama-sama kita menghabiskan waktu. Bahkan sehari sebelumnya aku mengendap menjadi anak-anak seusiamu. Meniru apa saja yang bisa kau lakukan. Aku berburu dengan waktu, bersamamu.
”Cepat, kemasi saja barang yang mau dibawa.”
”Sudah. Tak banyak juga kok.”
”Jangan lupa bawa baju Alana juga. Supaya kalau rindu, tinggal mencium bajunya Alana.”
”Ya, sudah. Foto-fotonya juga sudah kusalin di handphone.”
Hati terasa berat disaat menyimpan bajumu ditasku. Ibumu memilihkan salah satu baju yang kau pakai setelah bermain berpeluh keringat. Sengaja baju yang belum dicuci itu dibawa. Agar bau keringatmu ketika belajar berjalan itu bisa mendampingiku. Dan disaat bersamaan, kau seolah-olah hadir dalam pelukanku. Dengan bajumu, kau terasa dekat meski jauh.
”Ayo segera bersiap-siap. Jam 11.00 harus segera berangkat. Jangan sampai ketinggalan pesawat.”
”Alana segera pakaikan sepatu. Ia juga mau melihat pesawat.”
”Papapapapapapa....!!!!”
Sepeda motor segera kuhidupkan. Memboncengi kamu dan ibumu. Kita menuju bandara yang tak begitu jauh dari rumah. Tak sampai lima menit kita sudah tiba di bandara. Dengan tas ranselku, aku segera bersiap-siap terbang dengan burung besi itu. Namun ternyata, dalam perjalanan tadi ketika aku memboncengimu, kau terlelap dalam tidur. Rupanya silir-semilir angin yang kita lewati di sawah tadi melelapkanmu.
Tapi entahlah. Barangkali, kau tak ingin melihat kepergianku. Padahal, kau begitu bersemangat ketika melihat pesawat terbang melintasi pandanganmu. Namun kali ini kau ternyenyak. Aku mencium pipimu dan memelukmu. Walau hanya sejenak. Aku meminta izin dalam tidurmu agar bisa melepas kepergianku ke tanah seberang. Sementara ibumu, tak kuasa, menangis. Embun-embun itu akhirnya berderai dari matanya membasahi pipimu.
Syahdan, kakiku sulit kuangkat. Seolah menempel di bumi ini. Tak kuat meninggalkanmu.
”Jaga baik-baik Alana kita...” pintaku pada ibumu.
Aku mengacungkan jempol dan jari kelingkingku ke telinga. Sebagai isyarat akan selalu menelpon kamu dan ibumu. Sementara kau masih tertidur. Burung besi itu lalu membawaku. Membelah awan, menembus sinar baskara.
”Papapapapapapa....aaaaaaaaaa!!!” tiba-tiba kau terbangun. Dan aku tak lagi disampingmu.

**
18 Maret

Setelah sebulan lamanya di tanah seberang, aku kembali. Sore itu, hatiku berdebar. Tak sabar ingin bertemu denganmu. Aku ingin segera bertatap denganmu setelah sebelumnya hanya bisa mendengar suaramu lewat handphone: kelucuanmu yang selalu kurindukan. Ingin rasanya segera memelukmu. Mengusap kepalamu, meninabobokanmu, mengakrabkanmu dengan senja di sore itu, atau bermain pasir di pantai yang putih di Bolihutuo.
Bentor itu lalu membawaku bersama tiga rekanku menuju rumah. Aku ingin melihat rautmu ketika aku membawakanmu sebuah boneka dan lima buah buku khusus. Ya, aku memang ingin mengakrabkanmu dengan buku.
Sesampainya di pintu rumah, kau menyambutku. Dengan jalan yang sempoyangan, kau mencoba berlari, memberi kedua tanganmu. Rupanya kau sudah bisa berjalan. Dan ternyata aku gagal menjadi saksi pertama kali melihatmu bisa berjalan, seperti yang kujanjikan. Namun yang kusyukuri, kau tak melupakanku.
”Papapapapa....!!” kau berteriak menyambutku sambil menebar senyum dilesung pipitmu.
Sebuah kebahagiaan yang tiada duanya: aku merasa sebagai orang yang paling bahagia, ketika lama terpisah dengan seorang mangala, dan menyambutku ditepi graha. Sempat terlintas dalam benak, dan teringat kata kawan, bahwa ketika aku pulang nanti, kamu akan memanggilmu dengan sebutan ’Om’.
”Anakmu sudah lupa bahwa kau adalah ayahnya,” begitu katanya.
Ternyata mereka salah. Ingatanmu begitu kuat. Saat aku memelukmu, kau sangat bahagia. Itu terlihat dari tawamu, candamu, dan senyummu. Tak lupa, kau menyodorkan pipimu untuk kucium.
Lalu tiba-tiba, ”Preett,..preettt....”
Kau memperlihatkan kelebihanmu. Dengan mulutmu, kau meniru orang kentut. Saking girangnya, air ludahmu terpancar di wajahku. Dan aku tertawa. Kau pun membalasnya. Cara baru menyambutku. Bahagia rasanya jadi seorang ayah.

**
1 April

Waktu itupun tiba juga. Aku harus kembali ke tanah seberang: tanah yang penuh dengan keangkuhan, keterasingan, simbol kedigdayaan, kemakmuran, dan penuh dengan fatamorgana.
Aku akan kembali meninggalkanmu. Dan juga ibumu. Ini bukan soal ideologi atau materi, tapi ini adalah profesi. Entahlah, apakah ini adalah sebuah tuntutan? Lalu mengabaikan kamu dan ibumu? Tidak, ini bukan soal pengabaian.
”Papapapapa....aaaa!!”
Kau berteriak memanggilku. Seperti biasanya, kau seolah tahu akan kepergianku. Apa makna dari panggilanmu itu? Aku tak bisa mengartikannya, namun aku memahaminya.
Satu jam lagi, aku akan meninggalkanmu. Sebelum pergi, aku melekatkan diri denganmu. Mengajakmu melihat sapi-sapi milik tetangga kita, angsa, ayam, atau burung-burung kecil yang bercericit di pohon depan rumah. Hingga akhirnya burung-burung itupun ikut berbisik tentang kepergianku.
”Ayo segera berkemas.”
”Jangan lupa baju Alana juga.”
Seminggu sebelumnya, aku pernah mengajakmu melihat pesawat, di pagi itu. Dan kau berteriak kegirangan memandangi burung besi itu. Sambil menunjuknya, kau akan bersuara menggerutu dan mengangkat kedua tangan, lalu melayangkannya. Pun di malam sebelum Isya, aku mengajakmu memandang lebih dekat, di bandara itu.
”Bagimana pesawat terbang, Alana?” tanya ibumu.
”Wuussssss.....” jawabmu, sambil melayangkan kedua tanganmu menyerupai pesawat.
Pukul 10.30, aku bersiap-siap. Sepeda motor kuhidupkan. Kau dan ibumu kuboncengi, menuju bandara. Dalam perjalanan yang tak sampai lima menit itu, pikiranku menerawang. Membayangkan perkataan kawan, kalau aku lama tak berjumpa denganmu, kau akan memanggilku: Om. Aku tak mau dipanggil Om. Tidak.
Hingga sesampainya di bandara aku segera bersiap. Aku pamitan pada ibumu yang bersendu. Juga pamitan padamu. Dan ternyata, kau tidur. Tertidur dipelukan ibumu. Rupanya sepoi-sepoi angin yang beriringan dengan kita melewati pematang sawah telah meninabobokanmu. Apa kau tak menginginkan aku meninggalkanmu? Sehingga setiap kali aku pergi, kau tak ingin melihatku. Setiap aku pergi, pilihanmu adalah tidur. Apa kau tak ingin melihat aku terbang dibawa oleh pesawat itu? Seperti yang kau lihat di pagi hari membelah kabut menembus mentari. Seperti yang kau tiru dengan kedua tangamu.
”Jaga baik-baik Alana kita,” aku membisik ditelinga ibumu. Mencium pipimu.
Aku berjalan, melangkahkan kaki menuju pesawat. Sebelum naik, aku memandangimu, dan mengacungkan jempol dan jari kelingkingku ke telinga. Aku akan selalu menelpon kamu dan ibumu. Burung besi itu lalu membawaku. Membelah awan, menembus sinar baskara.
”Papapapapapapa....aaaaaaaaaa!!!” tiba-tiba kau terbangun. Dan aku tak lagi disampingmu.*

Jakarta, 12 April 2012
Untuk Alana Sastra Khairiyah Paino

Rabu, 25 Januari 2012

Kado untuk Alana


Teruntuk; Alana Sastra Khairiyah Paino

25 Desember 2010: Lonceng itu tak terdengar disini, sepi. Malam masih larut dan asyik dengan kegelapannya. Yang ada hanya suara ibumu yang sesekali meringis kesakitan. Ia terjaga dari tidurnya yang tak nyenyak. Lalu mondar – mandir di dalam rumah yang juga ditemani sepi. Ibumu gelisah. Sakitnya makin tak tertahankan. Dan tanpa disadarinya, dua tetes darah jatuh membercak di lantai rumah itu. Panik! Aku dan nenekmu yang melihatnya. Dalam hatiku berkata, ” Sebentar lagi kau akan melihat dunia. ”

Pukul 02.00 dini hari; pagi mulai mengintip. Raut nenekmu yang sedari tadi cemas makin jelas. Apalagi ibumu. Bergegas semua peralatan yang dibutuhkan disiapkan. Ditengah kepanikan malam itu, aku makin bingung. Kita harus naik apa ke rumah sakit di pusat ibu kota Kabupaten itu? Ya, rumah sakit! Bukan rumah bersalin yang biayanya mahal. Tempatnya pun jauh dari rumah ini. Yang setiap hari aku tempuh dengan kecepatan 60 Km/jam. Aku hanya punya motor yang tak cukup mengangkut ibumu yang merintih kesakitan. Dan itu sungguh tak mungkin.

Dalam situasi seperti itu, tiba - tiba pikiranku teringat pada sebuah permukiman dipinggiran Danau Limboto. Yang setiap kali hujan datang akan menjadi musibah bagi mereka; danau meluap dan air kecoklatan menggenangi rumah warga. Kedalamannya bisa mencapai satu meter lebih. Di kampung itu - yang tergenang dengan air - aku melihat sesosok perempuan yang tengah hamil tua meringis kesakitan dirumahnya yang hampir tertutup air. Dalam hatiku berkata, ” Perempuan itu akan melahirkan generasi baru di bantaran danau Limboto.”

Bagiku, yang penjual kata ini, perempuan hamil itu akan menjadi tulisan yang sangat laku jika dijual untuk konsumsi khalayak. Tapi itu tidak aku lakukan. Aku tidak mendekatinya. Aku tidak mencari tahu siapa suaminya. Aku tidak ingin menjual penderitaan perempuan di bantaran danau itu. Karena saat itu, yang aku ingat hanyalah ibumu. Selanjutnya, aku tidak tahu apa yang terjadi pada perempuan itu, namun aku berharap kebahagiaanlah yang ia rasakan.

Malam semakin dingin ketika pikiranku melintasi ruang lain dan bermain dengan ingatan tentang perempuan itu. Aku keluar setengah berlari menuju rumah tetangga yang sekiranya bisa memberikan pertolongan bagi ibumu. Dialah tetangga satu-satunya yang memiliki mobil dikompleks kita. Aku telah berada di pintu rumah itu, yang halamannya ditumbuhi pohon mangga besar. Aku mengetuk pintu rumahnya sambil mengucapkan salam berkali-kali. Namun tak ada sahutan. Wajah ibumu yang meringis kesakitan malah makin merecoki otakku. Aku panik. Aku berharap, ketukan pintu rumahnya yang terakhir itu bisa mengetuk pintu hatinya. Tapi tetap saja, tak ada sahutan. Aku marah, tapi pada siapa? Aku coba menghibur diri; barangkali tetangga kita ini sedang capek dan butuh istirahat banyak. Seandainya saja aku punya sekopor uang, sudah kubeli mobil tetangga itu.

Pukul 03.00 dini hari, pagi makin tak sabar mengganti malam. Sementara aku tak jua menemukan mobil buat ibumu. Aku coba tenangkan pikiranku. Sementara ibumu dengan kegelisahannya tak berhenti mondar-mandir dalam rumah. Kata nenekmu, dengan cara seperti itu maka akan mengurangi rasa sakit akibat tendanganmu, dan sikutmu yang mengenai dinding perut ibumu. Dalam situasi seperti itu, dibutuhkan tindakan yang cepat, seperti Rama yang menyelamatkan Shinta dari tangan Rahwana dalam kisah pewayangan itu. Tanpa pikir panjang, aku memecah kesunyian malam dengan deru mesin motorku. Menuju rumah salah satu keluarga yang jaraknya bisa ditempuh 15 menit. Ia mempunyai mobil angkot yang sering disebut ”mobil diskusi”, karena penumpangnnya saling berhadap-hadapan. Barangkali dialah yang bisa menolong ibumu menuju rumah sakit itu.

Beruntung memang, ia terbangun dari tidurnya ketika aku berkali-kali mengetuk pintu rumahnya. Meski awalnya ia berkeberatan, tapi aku terus meyakinkan dia: bahwa kamu tidak lama lagi akan lahir pada sebuah pagi dimana mentari pertama kali memancarkan sinarnya. Ia akhirnya setuju. Dan motor kupacu lagi, menuju ibumu. Kami lalu mempersiapkan semuanya untuk persalinan ibumu. Malam pada dini hari itu, mungkin kamilah yang tersibuk disaat semua orang-orang sibuk dengan mimpinya masing-masing.

Dan setelah semuanya diangkut di mobil diskusi, ibumu dan nenekmu menuju rumah sakit di Kabupaten itu. Aku membuntutinya dari belakang dengan motorku. Tepat pukul 04.00 dini hari, kami tiba di rumah sakit. Aku sebenarnya skeptis dengan pelayanan rumah sakit yang akan menjadi tempat persalinan bagi ibumu. Karena aku beberapa kali menjadi saksi betapa susahnya mendapatkan hak dasar pelayanan kesehatan di rumah sakit di tempat ini. Entahlah dengan tempat lainnya di negeri ini, aku tak tahu. Tapi sudahlah, lupakan soal itu.

Cahaya malam masih menguasai kala pagi. Suara dari corong mesjid belum terdengar. Dingin masih menusuk disetiap sendi tubuhku. Sementara sang suster yang menerima ibumu seperti belum bisa menahan kantuknya. Sudut matanya yang membengkak karena ketiduran terlihat jelas. Ia lalu mengajak ibumu pada sebuah ruangan. Setelah beberapa saat, ia keluar lagi, dan berujar padaku dan nenekmu, ” Masih lama, baru pembukaan satu.”

Aku tak mengerti apa maksudnya ”pembukaan satu”. Aku juga tak berusaha untuk menanyakan kepada suster itu, sebab nenekmu langsung mengerti dan menangkap maksudnya. Namun tafsiranku, kamu belum bisa lahir pada sebuah pagi seperti yang aku yakinkan pada keluarga kita, pemilik mobil diskusi tadi. Tapi aku tidak berharap banyak pada pagi. Sebab siang, sore, ataupun malam, kau adalah harapan.

***
26 Desember 2010: kabut mulai menyingkap. Embun pagi tak lagi setia pada daun. Di belakang rumah sakit tempat persalinan ibumu, sebuah mesjid berdiri tegap, tepat menghadap jalanan yang tak ramai. Seorang ibu tua pemilik kios sedang membersihkan jalanan ketika azhan telah selesai dikumandangkan. Ibu tua itu adalah orang-orang kecil yang saban hari was-was karena kios mereka mau dibongkar petugas pamong praja. Aku biasa mencari sebungkus nasi kuning sebagai pengganjal perut di kios ibu tua itu.

Ketika pagi mulai tersenyum, ibumu masih kesakitan menahan tendangan dan sikutmu yang makin berontak. Namun kata-kata suster itu kerap membuat pikiranku kacau. Sampai kapan ibumu menahan rasa sakit itu? Kau tahu, karena sakitnya, ibumu tak bisa lagi berdiri dan hanya bisa duduk di kursi panjang bercat putih, meringis kesakitan. Suster yang melihatnya hanya tenang-tenang saja. Aku makin khawatir, makin panik. Lalu tiba-tiba, saat itu juga otakku seperti ada yang membisik,” istri dan anakkmu tidak akan selamat.” Ah,...tidak! aku berteriak dalam hati. Aku baru sadar, aku dipermainkan oleh bisikan-bisikan yang entah dari mana. Itu tidak boleh terjadi, kataku.

Aku terus berusaha memberi kekuatan pada ibumu. Ku semangati dia; bahwa kebahagiaan sedang menununggu kita. Aku membisiki telinganya, sebentar lagi kamu; anak seorang penjual kata-kata, anak seorang guru, buat hati kami, akan lahir di bumi ini. Meski dalam hati, aku tak tega melihat ibumu menahan sakit itu. Ku sembunyikan semuanya. Aku bukanlah lelaki yang takut mendaki.

Saat ibumu menahan sakit itu, hari tak lagi pagi. Satu persatu sanak famili datang menjenguk ibumu. Ada bibimu, kakekmu, saudara dari kakekmu, semuanya berkumpul dan membaluti doa diseluruh tubuh ibumu. Waktu menunjukan pukul 12.00 siang, ibumu direbahkan pada sebuah tempat pembaringan. Sebuah ruangan yang hanya ditutupi dengan kain gorden yang bisa ditarik dengan mudahnya kapan saja. Orang bisa lalu lalang diruangan itu. Tak ada larangan bahwa yang bisa mendampingi ibumu hanya satu orang saja, layaknya rumah bersalin ditempat lain. Barangkali inilah saatnya kau lahir. Namun ternyata tidak. Kau tidak dilahirkan disaat terik mentari itu, selepas azhan zuhur.

Ibumu masih harus berjibaku dengan kerasnya tendanganmu. Aku mendampingi ibumu disamping kanannya. Aku tak meninggalkan sedetik pun momen itu. Merekam rasa sakit dan derita yang ibumu rasakan dalam memori otakku. Aku melihat, ibumu merintih kesakitan dan putus asa karena tak sanggup menahan keinginanmu melihat dunia. Aku mendengar ibumu mengatakan akan mati beberapa saat lagi, karena tak kuasa menahan sikutmu yang ingin cepat keluar dari rahim ibumu.

Ibumu merontak dan menggigit kain sarung agar suaranya tidak terdengar. Sambil sesekali kepalanya terangkat di pembaringan itu. Kakinya terus mengangkang memberi ruang padamu, agar kau cepat-cepat menghirup udara dunia. Namun keringat ibumu mengucur deras bagai bulir air yang turun dari langit di kala mendung. Ibumu bertarung melawan waktu menyelamatkanmu. Entah berapa lama lagi kau akan keluar melihat dunia ini. Aku seakan tak sanggup melihat ibumu yang terus menangis. Aku tak lagi membayangkan kisah pewayangan Rama dan Shinta yang berakhir bahagia. Barangkali aku adalah Rama yang gagal menyelamatkan Shinta, jika memang ibumu tak sanggup lagi.

Sampai pada akhirnya, sore dengan gagahnya menggantikan siang. Mentari tak lagi terik dan awan-awan menyatu menjadi mendung. Langit menggelegar ketika ibumu berteriak dan mencekik leherku; karena disaat bersamaan, suara tangisan itu melengkiing memecah kecemasan. Kau akhirnya berhasil menembus lingkar labirin itu dengan tubuh memerah dan sedikit membiru. Ya, kau akhirnya menangis ketika pertama kali melihat dunia. Tangisanmu menghentikan burung-burung yang berisik di pohon ditengah rumah sakit itu. Burung itu lalu berbisik satu sama lain, seolah sedang membahas kelahiranmu. Sebuah penantian panjang nan melelahkan.

Disamping ibumu yang nyaris kehabisan tenaga, aku melirik waktu yang tak lagi angkuh. Ia pukul 04.15 sore. Hujan pun turun. Deras. Seperti menangis menyambut kelahiranmu. Aku melirik mata ibumu, lalu melirik wajahmu; matamu tertutup namun tetap menangis. Tiba-tiba tanpa kusadari satu bulir air membasah di ujung mataku yang lama kering. Tak kuasa, aku pun menangis ketika pertama kali melihatmu; bahagia dan sedih bercampur.

Alana, anakku, tepat di hari ini, kau berumur satu tahun. Tak ada kado spesial buatmu. Yang ada hanyalah tulisan ini. Sengaja aku buatkan tulisan ini untukmu sebagai kado ulang tahunmu. Tentu ini bukanlah kisah penghabisan. Aku akan mendampingimu hingga besar, seperti aku mendampingi ibumu saat melahirkanmu. Aku akan terus menulis untukmu, sebagaimana aku berharap kau pula akan menulis untukku kelak. Karena setinggi apapun gelar dan pangkatmu, jika tak menulis akan terasa hampa. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, dalam tetralogi Bumi Manusia; menulislah, karena suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Isimu, 26 Desember 2011, menjelang tengah malam.


Dari Ayahmu
Christopel Paino

Jumat, 20 Mei 2011

Mati di Rumah Sendiri

Suara parau itu terdengar jelas. Di pohon besar tinggi menjulang, keduanya asyik bercengkrama. Paruh salah satunya dipatok pada dahan pohon. Ia berusaha mencari sesuatu. Sementara yang satunya asyik dengan kepakan sayapnya. Tak berapa lama, keduanya lalu terbang rendah berpindah ke pohon yang tak jauh dari tempat mereka. Setelah itu mereka menghilang dari pandangan.
Rankong Sulawesi ekor putih, begitu keduanya disebut. Nama latinnya, Aceros cassidix. Siang itu, empat pekan lalu, di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, dua pasang burung Rangkong terlihat kembali terbang mencari makanan di pepohonan yang tinggi menjulang. Mereka mudah dikenali, sebab memiliki ukuran tubuh relatif besar, warna bulu yang indah, dan cula kuning hitam pada bagian kepala dan leher, serta ditambah ekor yang berwarna putih. Inilah yang menjadi ciri khas Rangkong.
Dari lokasi titik bor 1, lokasi tambang emas yang berada di taman nasional itu, burung Rangkong beberapa kali menjadi perhatian para penambang emas yang sedang istirahat siang. Mereka seketika berteriak memanggil burung itu ketika berada di pohon. Suara pun ditiru menyerupai Rangkong.
” Itu namanya burung Alo,” ujar Sukarman Usman, 57 tahun, salah seorang penambang asal Manado di titik bor 1. Burung Alo merupakan nama lokal bagi burung Rangkong.
Rangkong Sulawesi ekor putih adalah burung endemik sulawesi yang berada pada daerah penting bagi burung di taman nasional Bogani Nani Wartabone. Rangkong juga dikenal sebagai burung monogami, yang selalu setia pada pasangannya.
Usman Laheto, 34 tahun, Asisten Project pada Lembaga konservasi Wildlife Conservation Society (WCS), menjelaskan, Rangkong bertelur pada lubang-lubang di atas pohon di dalam hutan. Setelah mendapatkan lubang yang cocok, burung betina akan masuk ke dalamnya dan menutup pintu lubang dengan lumpur. Hanya sebuah celah kecil saja yang disisakan pada penutup ini.
Selama 40 hari masa pengeraman, dan selama anaknya tumbuh, burung betina akan tinggal di dalam lubang pohon, dan makanannya tergantung pada suplai dari burung jantan.
” Sang jantan akan setia menjaga dan mencarikan makanan untuk betina,” jelas Usman.
Bagi penambang rakyat disana, hampir setiap hari mereka menyaksikan burung Rangkong hinggap di pepohonan. Namun itu terjadi sejak beberapa tahun silam, ketika kawasan pertambangan belum seramai saat ini.
” Kami sekarang melihat burung Alo tidak sebanyak dulu. Sekarang tinggal beberapa pasang saja. Kecuali harus masuk lebih dalam lagi ke hutan sana,” aku Sukarman sambil menunjuk punggung bukit di taman nasional.
Menurut Sukarman, bisa jadi kawanan burung Rangkong mulai jarang terlihat, sebab di kawasan pertambangan rakyat banyak pepohonan yang tumbang. Di lokasi titik bor 15 misalkan, pohon-pohon besar satu persatu tumbang oleh gergaji mesin. Di tempat seluas tiga hektar lebih itu dijadikan sebagai pemukiman oleh para penambang emas.
” Dulu pohon-pohon besar disini jadi tempat favorit burung Alo,” kata Sukarman yang mengaku sejak tahun 1980 berada di taman nasional menjadi mekanik di perusahaan tambang Utah Pasific, milik Amerika.
Selain burung Rangkong, salah satu satwa endemik sulawesi yang sulit ditemui adalah monyet Dumoga Bone (Macaca nigrescens). Tapi beruntung, siang itu, disaat Sukarman menjelaskan tentang keberadaan burung Rankong, tiba-tiba suara seperti binatang sedang berteriak dari pohon yang tak jauh dari titik bor 1. Suara itu cukup menarik perhatian.
” Itu suara dihe,” sela Sukarman.
Mendengar suara itu, satu persatu para penambang emas ada yang mencoba memperhatikan pohon itu. Bagi masyarkat Gorontalo, mereka menyebut monyet dengan nama Dihe. Namun sayang, monyet Dumoga Bone itu keburu menghilang.
” Hanya ada satu ekor dihe saja. Tapi dia sudah menghilang,” ujar salah seorang penambang.
Tak ada catatan yang pasti soal populasi monyet Dumoga Bone di taman nasional itu. Namun menurut WCS, ancaman utama kepunahan monyet ini adalah perburuan yang dilakukan warga kemudian di jual di pasar-pasar satwa liar yang ada di Minahasa, Sulawesi Utara. Selain itu, monyet sering diburu karena warga merasa terancam kebun mereka selalu menjadi sasaran gangguan.
Selain monyet Dumoga Bone, salah satu satwa endemik yang terancam kepunahannya di taman nasional saat ini adalah Anoa (Bubalus depressicornis). Populasi binatang khas sulawesi di kawasan hutan taman nasional itu terus mengalami penyusutan.
Menurut Abdul Haris Mustari, peneliti anoa dari Institut Pertanian Bogor, di taman nasional Bogani Nani Wartabone jumlah anoa maksimal 300 ekor. Populasi anoa yang menyusut drastis dibandingkan dengan beberapa tahun lalu itu diakibatkan oleh perburuan liar manusia untuk mendapatkan daging anoa.
”Biasanya daging anoa banyak diburu untuk dikonsumsi. Namun tidak dijual secara terbuka, melainkan door to door,” kata dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB itu.
Untuk populasi anoa di seluruh Sulawesi bahkan jumlahnya tidak lebih dari 5.000 ekor. Salah satu predator alami yang menyebabkan anoa terancam, kata dia, adalah ular phyton yang suka memangsa anak anoa atau anoa muda. Selain itu, anoa juga jarang melahirkan, yakni hanya satu anak per kelahiran.
”Namun predator utama anoa adalah manusia,” tandasnya.
Abdul Mustari sangat menyesalkan upaya dari aparat setempat yang dianggap tidak serius menangani perburuan liar anoa di kawasan itu. Bahkan hingga saat ini, kata dia, tak satu pun pemburu anoa yang pernah ditangkap.
Hal serupa juga diungkapkan Lynn Clayton, Doktor Eko Biologi dari Universitas Oxford, Inggris, yang melakukan penelitian tentang babi rusa selama kurun waktu 20 tahun di Suaka Margasatwa Nantu, Kabupaten Boalemo, Gorontalo.
Menurutnya, di taman nasional Bogani Nani Wartabone, sangat sulit dilakukan pendataan mengenai populasi satwa endemik sulawesi. Misalkan babi rusa, ia hanya bisa menghitungnya dari hasil perburuan warga ketika berada di pasar-pasar satwa liar yang ada di Minahasa, Sulawesi Utara.
” Pada tahun 1980-an, dalam setahun ada 750 ekor babi rusa dijual di pasar satwa liar. Sementara babi hutan sebanyak 1500 ekor,” kata wanita berkebangsaan Inggris itu.
Yang ia sesalkan, hingga saat ini pengawasan di taman nasional begitu longgar, bahkan nyaris tidak sama sekali. Hal itu menyebabkan daging babi rusa diburu dan diperdagangkan di pasar satwa liar yang ada di Minahasa. Dalam seminggu, mereka menemukan tiga ekor daging babi rusa dijual disana.
” Satu kilogram daging babi rusa dihargai 25 ribu hingga 30 ribu rupiah,” ungkap Lynn.
Dari keseluruhan satwa endemik yang ada di taman nasional itu, hanya ada satu satwa yang dilakukan penanganannya, yakni burung Maleo ((Macrocephalon maleo). Itu pun dilakukan WCS.
” Ada tiga tempat penangkaran burung Maleo di taman nasional, yakni Hungayono di wilayah Gorontalo, Tambun dan Muara Pusian di wilayah Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara,” kata Usman asisten project dari WCS.
Sejak tahun 2003 hingga Maret 2011 tahun ini, sebanyak 6000 ekor maleo di Tambun dan Muara Pusian dilepas ke alam bebas. Sementara di Hungayono, sebanyak 3000 ekor maleo yang dilepas.
Usman mengakui tidak ada cara penanggulangan terhadap satwa-satwa endemik lainnya selain Maleo. Padahal, ancaman yang ada di taman nasional saat ini begitu besar, yakni masuknya perusahaan tambang skala besar. Maka dalam hitungan beberapa tahun kedepan, dipastikan satwa endemik sulawesi di taman nasional pasti punah.
” Contohnya saja musang sulawesi. Saat ini hewan endemik itu susah sekali ditemui, bahkan diperkirakan sudah tidak ada lagi,” keluh Usman.
Rencana masuknya pertambangan skala besar di taman nasional memang membuat semua pihak cemas. Hal serupa juga ditunjukan oleh Sahyudin, Kepala Seksi Wilayah I Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Lelaki yang sudah dua tahun menjadi perwakilan balai taman nasional di Bone Bolango itu mengaku dilema.
Sebab lembaga yang dipimpinnya kerap kali dianggap tidak mendukung pembangunan yang dicanangkan pemerintah karena program konservasi mereka.
” Menjaga hutan di taman nasional itu sangat dilematis. Mau menjalankan program konservasi, malah dianggap tidak mendukun pemerintah. Ketika mendukung pemerintah, malah dianggap tidak tidak menjalankan program konservasi,” kata Sahyudin ketika ditemui dikediamannya.
Taman nasional bogani nani wartabone mencakup dua wilayah, yakni Provinsi Gorontalo dan Provinsi Sulawesi Utara. Total luasnya adalah 287.115 hektar. Sementara yang masuk wilayah Gorontalo luasnya 110.000 hektar.
” Dengan luas sebesar itu, hanya dijaga oleh 12 orang personil polisi kehutanan dibantu empat orang Tenaga Pengaman Hutan Lainnya (TPHL),” ungkap Sahyudin.
Jumlah itu jelas sangat sedikit. Sebab standarnya satu hektar dijaga empat orang polisi kehutanan.
” Idealnya kami membutuhkan sekitar 60-an orang polisi kehutanan.”
Selama bertugas, katanya, terutama ketika menertibkan perambahan hutan, mereka kerap kali diintimidasi warga sekitar kawasan. Meski tidak sampai pada kontak fisik, namun hal itu cukup menguras tenaga.
Kejadian yang tidak akan dilupakan Sahyudin terjadi pada bulan Juni 2010 lalu. Ketika itu, balai taman nasional bersama dengan anggota Kepolisian Resort Kabupaten Bone Bolango melakukan penertiban penambang emas tanpa izin, malah dihalangi oleh anggota dewan dan salah seorang Camat.
” Kami dianggap perpanjangan tangan dari perusahan PT Gorontalo Mineral,” ucapnya.
Padahal kata dia, balai taman nasional tidak terlibat dan justru menolak rencana alih fungsi hutan itu. Tapi karena sudah ada surat keputusan dari Menteri Kehutanan, mau tidak mau mereka harus menjalankan tugasnya.
” Di lokasi alih fungsi hutan itu, sebagian besar hutannya masih bagus. Sedang sekitar 500 hektar lainnya sudah rusak parah. Begitu juga dengan satwa endemik didalamnya, sangat memprihatinkan,” tandas Sahyudin.

Jumat, 25 Februari 2011

Istri Lot

Senin, 14 Februari 2011

Hari-hari ini kita akan terpaksa kembali kepada Tuhan yang ”ganas”, yang ”cemburu”—Tuhan dalam sajak Amir Hamzah yang terkenal itu. Kita akan teringat kepada-Nya, ketika di banyak tempat orang berseru, menyebut Nama itu, dan merasa sah untuk membantai.

Tuhan dan kekerasan: kedua kata itu akan berjauhan seandainya tak ada orang-orang yang tak berdaya yang dianiaya oleh mereka yang merasa menjalankan titah-Nya.

Februari 2011, serombongan orang atas nama Islam membunuh tiga orang di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Juni 2010, beberapa orang menembaki Jemaat Ahmadiyah yang sedang melakukan salat Jumat di dua masjid Lahore; sekitar 80 orang tewas. Februari 2002, di Gujarat, India, orang muslim dan Hindu saling membantai; kurang-lebih 1.200 orang mati. Februari 1994, seorang Yahudi, Barukh Goldstein, menembakkan senapan mesin ke orang-orang yang bersembahyang di Masjid Ibrahim, Yerusalem. Sekitar 30 muslimin tewas.

Catatan ini bisa ditarik ke masa silam: Agustus 1572, orang-orang Katolik Prancis memulai pembantaian besar-besaran umat Protestan. Puluhan ribu mati. Beberapa belas tahun kemudian, November 1588: penguasa Protestan Inggris menghukum mati 33 orang Katolik karena iman mereka.

Apa yang mencolok dalam kekejaman itu adalah awalnya: orang tak dilihat sebagai wujud yang singular. Tuhan agaknya hanya terasa akbar bila digambarkan sebagai Sang Pelaksana Agung hukuman kolektif. Kita teringat akan kisah Perjanjian Lama tentang Kota Sodom yang dihancurkan-Nya. Sodom dan Gomora binasa, karena bagi-Nya kota-kota itu hanya dosa.

Keadilan bisa disebut di sini, jika keadilan hanya berarti adanya hukuman atas kesalahan. Tapi kita tahu, keadilan juga persoalan yang rumit. Andai Sodom, tempat berkecamuknya perilaku homoseksual yang membuat ”banyak keluh-kesah orang” dan ”sangat berat dosanya”, patut dibinasakan, adilkah untuk tak melihat bahwa dalam kota itu, sebagai kesatuan, ada beda yang tak terduga? Bahkan Abraham, orang yang telah dipilih-Nya, risau menghadapi sikap Tuhan yang murka itu. Dalam doa syafaatnya, laki-laki itu bertanya: ”Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik?”

Syahdan, Tuhan mendengarkan doa Abraham. Tapi, bagi-Nya, tetap tak cukup jumlah orang baik yang akan membuat Sodom bisa diselamatkan. Esoknya Abraham mengetahui usahanya gagal. Pagi-pagi ia memandang ke arah Sodom dan Gomora serta ke seluruh tanah Lembah Yordan. Yang dilihatnya: ”asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan”.

Kita tak tahu apa yang kemudian terjadi dalam dirinya. Yang kita ketahui dari Alkitab: laki-laki ini tetap setia kepada Tuhan yang tak sepenuhnya dipahaminya. Ia seorang patriah. Ia seorang pemimpin. Ia bukan seorang yang diketahui mencatat kepedihan orang yang tak bersalah dan jadi korban. Terutama perempuan, yang dalam agama sering tak dianggap penting.

Agaknya sikap tak peduli ini menyebar dari generasi ke generasi. Tapi pada tahun 1920-an seorang penyair perempuan, Anna Akhmatova, menulis sesuatu yang lain. Ia menulis sebuah sajak tentang istri Lot.

Ia bertolak dari ujung kisah Sodom yang mengerikan itu. Sebelum kota itu binasa, malaikat berkata kepada Lot, orang yang dikasihi Tuhan, agar ia membawa istri dan kedua anaknya menyingkir. Mereka pun dibawa ke luar kota, seraya diberi pesan, agar jangan menoleh ke belakang. Lot dan kedua anaknya selamat. Tapi, dengan satu kalimat yang seakan-akan hanya terselip, disebutkan: ”… istri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.”

Lalu perempuan itu tak pernah disebut lagi—juga tak pernah ditanyakan, apa sebabnya ia tak patuh. Di tengah kebisuan itu, atau terhadap kebisuan itu, Akhmatova menyajikan sebuah cerita lain. Saya terjemahkan sajaknya sebisa mungkin:

Lot yang suci pun melangkah, menyusul malaikat

Di atas bukit. Tampak besar, ia berkilat, hitam pekat.

Tapi hati istrinya berbisik, kian kuat, tak seperti biasa:

'Senja belum gelap. Tengoklah di balik sana.

Pandanglah menara kotamu yang merah mawar,

Taman tempat kau bernyanyi, halaman tempat kau memintal,

Jendela-jendela lapang rumahmu yang nyaman

Di mana anak-anakmu kau lahirkan’.

Maka ia pun memandang ke Sodom kembali. Tapi tatapan itu

Terpaku pedih: tak ada yang tersisa lagi.

Dan di saat itulah kakinya terbenam,

Tubuhnya tiang garam.

Di bait terakhir sajaknya Akhmatova kemudian bertanya: siapa sanak saudara yang akan berkabung karena kekejaman itu? Tersirat dalam Alkitab, perempuan itu cuma kehilangan yang tak berarti. Hanya sang penyair yang tak bisa melupakannya: sajaknya adalah penghormatan kepada seorang yang bersedia mati agar bisa melihat kembali, cukup sekali, apa yang amat berarti baginya.

Dalam sajak dengan kisah yang sama yang ditulis Cyprianus Bitin Berek, apa yang amat berarti itu lebih dijelaskan. Istri itu membandingkan dirinya dengan suaminya. Lot seorang pengelana, sedangkan ia bukan. ”... diriku asli Sodom/Berbekas hingga sumsum”.

Betapa bisa kulupakan tanah ini?

Kanak-kanakku terukir di pohon-pohon

dan kilau remajaku di tembok kota.

Betapa kutinggalkan sanakku mati terbakar?

Artinya, yang berarti bagi perempuan ini bukanlah ketaatan kepada titah yang agung, melainkan apa yang fana, rapuh, tapi tak tergantikan. Ia korban. Ia sebuah nasib yang singular. Ganjil, jika dilihat dari aturan.

Tuhan, yang ditafsirkan hanya berhubungan dengan yang Satu, tak akan menjangkau yang ganjil yang tak tepermanai itu. Tapi Tuhan yang seperti itu bukanlah Tuhan yang lebih dekat ke diri manusia ketimbang urat nadi lehernya. Kepada yang terakhir ini agaknya manusia masih tak berhenti berharap.

Goenawan Mohamad